13 Juni, 2017

Senyum.. Salam... Sapa... Sepelehkah ?



Sering kali kita melihat slogan Senyum…. Salam… sapa… di sekolah-sekolah mungkin atau di tempat-tempat umum, terkadang melihatnya sambil lalu, atau mencoba sedikit di praktekkan.
Saya termasuk orang yang terkadang melihatnya sambil lalu, toh saya kadang sering memaksa diri menyapa orang asing dengan basa-basi atau mengangguk dengan tersenyum kea rah orang asing tersebut, walau saya tak tahu apa mereka sadar saya sedang tersenyum atau tidak karna pastinya senyum saya terlindung oleh cadar, cukuplah garis mata yang tertarik ke samping menjadi tanda jika saya sedang tersenyum.

Kenapa saya menyebutnya orang asing ? karena in Syaa Allah saya jika mengenal orang tak sungkan-sungkan menyapa, tapi jika saya bertemu orang tak di kenal di mesjid atau lagi ta’lim dll, masya Allah menyapa itu kadang penuh pertimbangan, khawatir di cuekin en akhirnya malu, khawatir di bilangin sok kenal… aaahhh macam-macamlah praduga-praduga menyesatkan yang memenuhi otakku.

Hingga tadi maghrib aku tersentak dengan telpon  seorang teman yang mengingatkanku tentang pentingnya, senyum, salam, sapa.

Seorang Guru tempat kami Peskil beberapa hari ini, merasa jika kami para ummahat bercadar ini enggan menyapa mereka yang masih memakai jilbab kecil dan celana panjang, mereka merasa jika mereka tak pantas untuk kami sapa…

Innalillahi wa innailaihi raji’uun, tak ada sedikitpun rasa seperti itu in syaa Allah, kami hanya sungkan dan yah seperti perasaan di atas, karena kami jelas lebih muda dan mereka Guru-Guru senior yang kami membayangkan seperti guru-Guru kami di zaman sekolah yang akhirnya menghadirkan rasa sungkan, apalagi jika orang tersebut menatap tanpa senyuman hehehehe

Tak henti-hentinya kami istighfar dan memuhasabah diri untuk tidak menyepelekan 3 kata ajib tersebut, senyum, salam, sapa…

Kenapa kami melupa untuk meneladani sikap Rasulullah saw,
Sebagaimana yang diceritakan oleh sahabat Jarir bin Abdillah Radhiallahu’anhu : “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah menghindari aku jika aku ingin bertemu dengannya, dan tidak pernah aku melihat beliau kecuali beliau tersenyum padaku” (HR. Bukhari, no.6089).

Masya allah,beliau adalah sosok sempurna sebenar- benar sempurna, yang memiliki akhlak tak ada cela sedikitpun, Allahumma Sholli 'ala Muhammad...

padahal tidak berat yah hanya menyapa dengan salam atau senyum, padahal ganjaran sangat luar bisa,

Nabi Muhammad pernah bersabda: “Hai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan, eratkanlah tali kekeluargaan, shalatlah ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamata.” (HR. At-Tirmdzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits shahih).


Beda  orang asing tersebut orang nasrani atau yahudi jangan kita menyapanya dengan salam, karena Rasulullah saw, pernah bersabda,
“Janganlah memulai ucapan salam kepada orang yahudi dan jangan pula Nasrani. Jika kalian bertemu dengan salah seorang dari mereka (yakni orang yahudi atau nasrani) pada suatu jalanan, paksalah (pepetlah) mereka untuk melalui jalan yang tersempit.” (HR. Muslim). Meskipun demikian, bukan berarti kita tidak boleh menyapa meraka. Hanya saja, tidak boleh menggunakan fasilitas syariat Islam. Untuk menyapa mereka tidak perlu mengucapkan salam. Cukup dengan senyum saja. Pasti mereka tahu kalau kita itu menyapa.


#Day 28
#30DWC
#Jilid 6
#Squad 6

Safar dan Adab-Adabnya

Travelling, safar atau wisata itu semua bermakna melakukan perjalanan walau dengan tujuan yang berbeda-beda dan identik dengan perjalanan jauh, 95% dari manusia di perkotaan khusus melakukan hal ini,bergerak untuk sukses, terlihat jelas beberapa outlet-outlet resmi penjualan tiket atau agen-agen tour and travel yang menjamur di sepanjang jalan dikotaku.

Dalam qur’an surat Al-Jum’ah ayat 10.

“Faidza qudiyatissholatu FANTASYIRU FIL ARDHI wabtaghu minfadlillah…”.
Dalam ayat yang turun 1400 tahun lebih yang lalu ini, kata-kata FANTASYIRU FIL ARDHI = “bertebaranlah di muka bumi”, mengandung arti bahwa kesuksesan itu tidak ditunggu, mau tidak mau harus dikejar, dicari dan diikhtiarkan. Konsepnya, berikhtiar sekuat-kuatnya atas proses lalu bertawakkal atas hasilnya.

Sebab itulah hampir semua makhluk hidup di muka bumi bergerak jika ingin sukses.
Tapi kali ini saya ingin menulis tentang wisata.

Untuk kata wisata dalam kamus besar bahasa Indonesia bermakna :

wisata/wi•sa•ta/ v 1 bepergian bersama-sama (untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang, dan sebagainya); bertamasya; 2 piknik;

setelah orang tua lelah bekerja, anak-anak penat menghadapi ujian akhir sekolah, maka tibalah masa berlibur, sebagian kita merencanakan perjalanan berlibur atau wisata ke tempat-tempat special yang diinginkan anak-anak atau kita sendiri dengan budget yang telah di siapkan.

Kebutuhan jasmani anak-anak yang akan melakukan perjalanan di siapkan semaksimal mungkin jangan sampai tujuannya bersenang-senang malah kacau jadinya
Tapi jangan lupa mari persiapkan juga kebutuhan rohani kita dan anak-anak, sampai kan pada mereka agar hendaknya perjalanan kita untuk menambah kecintaan kita pada Robb, Dzat yang menciptakan segala keindahan yang kita saksikan, ajak anak-anak untuk merenungkan semua itu, kemudian jangan lupa pula ajarkan anak-anak adab-adab safar berikut :

Pertama , melakukan shalat istikharah terlebih dahulu untuk memohon petunjuk kepada Allah mengenai waktu safar, kendaraan yang digunakan, teman perjalanan dan arah jalan. Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ

“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. ” 1

Kedua , jika sudah bulat melakukan perjalanan, maka perbanyaklah taubat yaitu meminta ampunan pada Allah dari segala macam maksiat, mintalah maaf kepada orang lain atas tindak kezholiman yang pernah dilakukan, dan minta dihalalkan jika ada muamalah yang salah dengan sahabat atau lainnya.

Ketiga , menyelesaikan berbagai persengketaan, seperti menunaikan utang pada orang lain yang belum terlunasi sesuai kemampuan, menunjuk siapa yang bisa menjadi wakil tatkala ada utang yang belum bisa dilunasi, mengembalikan barang-barang titipan, mencatat wasiat, dan memberikan nafkah yang wajib bagi anggota keluarga yang ditinggalkan.2 Hal-hal ini perlu disiapkan karena kita tidaklah tahu ajal kita kapan menjemput. Boleh jadi saat safar malaikat maut datang menjemput. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“ Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. ” (QS. Luqman: 34)

Keempat , melakukan safar atau perjalanan bersama tiga orang atau lebih. Sebagaimana hadits,

الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ وَالثَّلاَثَةُ رَكْبٌ

“ Satu pengendara (musafir) adalah syaithan, dua pengendara (musafir) adalah dua syaithan, dan tiga pengendara (musafir) itu baru disebut rombongan musafir. ”3 Yang dimaksud dengan syaithan di sini adalah jika kurang dari tiga orang, musafir tersebut sukanya membelot dan tidak taat.4 Namun larangan di sinibukanlah haram (tetapi makruh) karena larangannya berlaku pada masalah adab. 5

Kelima, mencari teman perjalanan yang baik. Carilah orang yang mengerti agama sebagai teman di perjalanan. Karena hal itu merupakan salah satu faktor yang membuat kita diberi petunjuk oleh Allah dan juga menyebabkan diri terjaga dari berbuat kesalahan selama dalam perjalanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamb bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“ Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang akan kalian jadikan sebagai teman dekat. ”6 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِىٌّ

“Janganlah engkau berteman melainkan dengan orang yang beriman. Hendaklah yang menikmati makananmu hanyalah orang yang bertakwa.” 7
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan teman yang baik laksana orang yang membawa minyak wangi sedangkan teman yang jelek diperumpamakan seperti pande besi. 8

Keenam, mengangkat pemimpin dalam rombongan safar yang mempunyai akhlaq yang baik, akrab, dan punya sifat tidak egois. Juga mencari teman-teman yang baik dalam perjalanan. Adapun perintah untuk mengangkat pemimpin ketika safar adalah,

إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

“Jika ada tiga orang keluar untuk bersafar, maka hendaklah mereka mengangkat salah satu di antaranya sebagai ketua rombongan.” 9

Ketujuh, hendaklah melakukan safar pada waktu terbaik.
Dianjurkan untuk melakukan safar pada hari Kamis sebagaimana kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Ka’ab bin Malik, beliau berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – خَرَجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ ، وَكَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ

“ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju perang Tabuk pada hari Kamis. Dan telah menjadi kebiasaan beliau untuk bepergian pada hari Kamis. ”10

Dianjurkan pula untuk mulai bepergian pada pagi hari karena waktu pagi adalah waktu yang penuh berkah. Sebagaimana do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu pagi,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”11

Ibnu Baththol mengatakan, “Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu pagi dengan mendo’akan keberkahan pada waktu tersebut daripada waktu-waktu lainnya karena waktu pagi adalah waktu yang biasa digunakan manusia untuk memulai amal (aktivitas). Waktu tersebut adalah waktu bersemangat (fit) untuk beraktivitas. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan do’a pada waktu tersebut agar seluruh umatnya mendapatkan berkah di dalamnya.”12

Juga waktu terbaik untuk melakukan safar adalah di waktu duljah. Sebagian ulama mengatakan bahwa duljah bermakna awal malam. Ada pula yang mengatakan maknanya adalah seluruh malam karena melihat kelanjutan hadits. Jadi dapat kita maknakan bahwa perjalanan di waktu duljah adalah perjalanan di malam hari13. Perjalanan di waktu malam itu sangatlah baik karena ketika itu jarak bumi seolah-olah didekatkan. Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالدُّلْجَةِ فَإِنَّ الأَرْضَ تُطْوَى بِاللَّيْلِ

“Hendaklah kalian melakukan perjalanan di malam hari, karena seolah-olah bumi itu terlipat ketika itu.” 14

Kedelapan, melakukan shalat dua raka’at ketika hendak pergi15. Sebagaimana terdapat dalam hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَخْرَجِ السُّوْءِ وَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَدْخَلِ السُّوْءِ

“ Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah .”16

Kesembilan, berpamitan kepada keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan.
Do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang hendak bersafar adalah,

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

“Astawdi’ullaha diinaka, wa amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik (Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah)” 17.
Apabila salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta wasiat karena akan bepergian maka beliau mengatakan kepadanya,

زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ
“Zawwadakallahut taqwa, wa ghofaro dzanbaka, wa yassaro lakal khoiro haitsuma kunta. ” 18
Kemudian hendaklah musafir atau yang bepergian mengatakan kepada orang yang ditinggalkan,

أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ


“Astawdi’ukallahalladzi laa tadhi’u wa daa-i’ahu (Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya).” 19

Kesepuluh, ketika keluar rumah dianjurkan membaca do’a:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

“Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada-Nya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya)20.

Atau bisa pula dengan do’a:

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عليَّ

“Allahumma inni a’udzu bika an adhilla aw udholla, aw azilla aw uzalla, aw azhlima aw uzhlama, aw ajhala aw yujhala ‘alayya” [Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan orang lain, dari menzholimi diriku atau dizholimi orang lain, dari kebodohan diriku atau dijahilin orang lain] 21.

Keterangan :

1 HR. Bukhari no. 7390.
2 Adab pertama sampai ketiga dijelaskan dalam Al Ghuror As Saafir fiima Yahtaaju ilaihil Musaafir, hal. 15-16.
3 HR. Abu Daud no. 2607, At Tirmidzi no. 1674 dan Ahmad 2/186. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 62.
4 Lihat Fathul Bari, 6/53 dan penjelasan Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 62.
5 Lihat perkataan Ath Thobari yang dibawakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Fathul Bari, 6/53.
6 HR. Abu Daud no. 4883 dan Tirmidzi no. 2378. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
7 HR. Abu Daud no. 4832 dan Tirmidzi no. 2395. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
8 HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628, dari Abu Musa Al Asy’ari.
9 HR. Abu Daud no. 2609. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.
10 HR. Bukhari no. 2950.
11 HR. Abu Daud no. 2606 dan At Tirmidzi no. 1212. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya (baca: shahih lighoirihi). Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1693.
12 Syarhul Bukhari Libni Baththol, 9/163.
13 Lihat ‘Aunul Ma’bud, 7/171.
14 HR. Abu Daud no. 2571, Al Hakim dalam Al Mustadrok 1/163, dan Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro 5/256. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 681.
15 Lihat pembahasan dalam Jaami’ Shohih Al Adzkar, hal. 153.
16 HR. Al Bazzar, hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 1323
17 HR. Abu Daud no. 2600, Tirmidzi no. 3443 dan Ibnu Majah no. 2826. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 14 dan 15.
18 HR. Tirmidzi no. 3444. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.
19 HR. Ibnu Majah no. 2825. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
20 HR. Abu Daud no. 5095 dan Tirmidzi no. 3426, dari Anas bin Malik. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1605.
21 HR. Abu Daud no. 5094 dan Ibnu Majah no. 3884, dari Ummu Salamah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 2442.


#Day 27
#30DWC
#Jilid 6
#Squad 6