08 Juni, 2017

Ukhuwah Fillah

Ukhuwah, seringkali kata ukhuwah itu dianggap sepele, angin lalu, apalagi jika di tambah ukhuwah fillah, yah dianggap kita udah berteman gak kelahi, gak bentrok udah sahabat deehh.. gak usah ribet pake istilah  ukhuwah fillah.

Heeey… jangan salah, bersaudara karena Allah itu penting, niat kita ingin menjadikan dia saudara itu karna apa ? jangan sampai hanya karena dia cantik misalnya , atau kaya atau pintar.

Sia-sia berteman bersaudara kalau bukan karena Allah swt, seperti apa sih?

Bersaudara dengan niat karna Allah swt, kita bersaudara dengan si Fulanah karena ingin lebih baik, ingin lebih dekat dengan Rabb, karena si Fulanah itu sosok yang sholehah, harus kita mencari teman yang sholehah agar selamat bukan hanya akhirat saja tapi dunia kita pun juga.

Mari kita lihat kisah sosok Quraisy di zaman Rasulullah, Uqbah Bin Abi Mu’ith, dia sebenarnya sudah mulai tersentuh hatinya dengan dakwah Rasulullah saw, tapi karena dia bersahabat dengan orang paling jahat terhadap perjuangan dakwah nabi yaitu Abu Jahal maka dia tidak pernah merasakan manisnya iman.
Pada suatu hari Nabi Muhammad saw, sedang shalat di Masjid Al- Haram. Dari kejauhan terlihat Uqbah bin Abi Mu’ith datang menuju mesjid. Penuh dengan kebencian, langklahnya tergesa-gesa…

Apa yang hendak Uqbah bin Abi Mu’ith lakukan ?

Bersabar esok hari yaaa…
Waktu istirahat telah tiba… pengen menulis tuntas tapi khawatir waktu untuk yang terdzholimi hehehhe

#day 23
#30DWC#Jilid 6
#Squad 6

Belajar dari Batu

Keutamaan menuntut ilmu, aku dapat pelajaran dari materi yang aku ingin sampaikan esok di depan ade-ade SMP Patra Darma, dari kisah seorang ulama luar biasa bernama Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Nama asli beliau ada yang menyebutnya Ahmad ada juga yang menyebutnya Zaid, yang pasti nama Ibnu Hajar itu bukan nama beliau dan juga bukan nama ayah beliau.
Itu adalah nama pena beliau, yang beliau ingin mengenang dan mengajarkan kepada kita pelajaran penting dari Hajar ( batu ).

Ibnu Hajar kecil dianggap tidak bias mengikuti pelajaran di sekolah, jika sampai di sekolah dan masuk ke dalam kelas beliau sangat setres dan sangat tidak enjoy mengikuti pelajaran, menghafal dll, hingga pada suatu hari, beliau keluar dari kelas meninggalkan kegiatan pembelajaran, pergi jauh ingin menenangkan hatinya, Qadarullah, hujan turun , Ibnu Hajar melihat sebuah Gua dan masuklah beliau didalamnya untuk berteduh, diam didalam hingga hujan reda, ketika hujan reda, beliau mendengar suara tetes-tetes hujan satu-satu , didatangi tempat itu, dia melihat batu yang bolong karna tetesan hujan, Ibnu Hajar tertegun, dia merenungkan apa yang baru saja dia lihat, batu yang keras bias kalah hanya dengan tetesan air hujan ?

Akhirnya beliau kembali ke sekolah dan mencari Gurunya untuk mendiskusikan kejadian itu, apa kata Gurunya ?

“seperti itulah nak..  jika Allah berkehendak,dengan ketentuannya apa saja bias terjadi,batu yang keras saja bias bolong, apalagi otak kita yang gak keras “

Sejak itu Ibnu Hajar Al-Asqalani belajar dengan giat hingga akhirnya beliau berhasil hafal Al-Qur’an dan ribuan hadits, serta menciptakan bebebrapa buku yang kita kenal hingga kini seperti Kitab Fathul Bari dan Bulughul Maram.

Pelajaran berharga buat diri pribadi saya, ketika dalam Al-Qur’an pun di Surah At-taubah ayat 122, kita di perintahkan untuk menuntut ilmu, dan jika kita mengalami hambatan maka di berikan solusi dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 282.

Masya Allah, al-Qur’an benar-benar petunjuk yang tidak ada keraguan di dalamnya.

Astaghfirullah al’adziem, semoga Allah mengampuni kekhilafan saya dan memberi petunjuk kepada saya atas kesalahan dalam penulisan.

#day22
#30DWC#Jilid6
#Squad 6