21 September, 2020

Tekad kami Gen Ms

Hari kedua jalani tekad kami.. bagi kami ini melebihi tantangan menulis setiap hari yg pernah kami ikuti.
Karena kami sedang berusaha untuk menjalani kodrat kami, kebutuhan kami

Dan kami yakini tak akan tercapai tanpa kita bersama mewujudkannya
Bagi sebagian orang ini biasa
Bagi kami ini luar biasa
Karna keistiqomahan yang ingin kami capai

Ketika kami diskusi mencari Moment menulis yang pas untuk kami yg sok sibuk ini..
Maka pilihan kami jatuh pada jam ba'da shalat lail seperti yg Alm. Abba kami tersayang contohkan
Sebab menjadi penulis bukan berarti harus mengabaikan tugas beres2 rumah dan kebersamaan dengan sang anak
Sebab jadi penulis bukan hal mudah jika tak melibatkan Allah dengan memohon karunia-Nya untuk kemudahan otak berpikir dan kelincahan jari menulis

قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًاۙ
bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),
Q.S Al-Muzzammil  : 2

Tidak pernah salah perintahnya... Karna Allah Maha Tahu kebutuhan hambaNya
Bangunlah...
Dan minta sebanyak yang kau Butuhkan...

Allahu Ahad... Bimbinglah kami selalu...
Dan kebahagiaan selanjutnya... Ketika anak2 akhirnya mengikuti kami untuk bangun shalat lail tanpa di bangunkan seperti biasa...

Allahu Akbar... Sungguh ya Rabbanaaa... Aku pernah mengimpikan hal ini...
Dan hanya segini yg kami lakukan tapi Engkau sdh kasi cash kebahagiaan2 ini...

Tersungkur kembali dalam riuh dan gemuruh dada bahagia dan haru
Allaaaaaaaah.....
يا حي يا قيوم برحمتك تستغيث
اصلح لي شاني كله ولا تكلني إلى نفسي طرفة عين

😭

"Pulanglah Nak, Atas Nama Rindu"


Sejak langkah kaki terakhir meninggalkan teras rumahnya, jiwanya enggan mengajak raganya beranjak,
Tak siap dengan kesepian yang akan semakin menekan rasa rindu di usianya yang semakin senja . 
Rindu tawa riang anak-anaknya yang tak ingin jauh dari sisinya, 
Rindu ketergantungan anak-anak pada dirinya.

Raganya tetap di teras sederhana sebagai saksi kesepiannya.

Lelah menatap ujung jalan berharap kerinduannya terbalas.
Kini air matanya luruh, tangan keriputnya sibuk menghapus airmata yang tak diinginkan menemani sepinya.
Satu persatu anak-anak yang kini telah menjelma dewasa dihubungi by phone mengabarkan kesepiannya, kerinduannya.

Memaklumi ketidakhadiran mereka, tapi tak kuasa menepis gelisah untuk kesetiaan rasa rindunya
Hanya sehari sendiri bagai setahun menanti, menanti rindu yang berbalas setiap kali rasa itu menyapa.
Pulanglah nak, atas nama rindu, agar rasa kita bertemu dan kata pamit menjauh tersingkir.
....
Sang anak mengucap lirih nun jauh darinya,
akupun rindu.

Sang Ibu membalas, 
ini hanya rindu. Berbaktilah untuk Ummat, agar Ridho ini semakin melangit.

Gen Ms07
Samarinda, 21 Sep' 2020

#tantanganmenulis1
#Mushidamenulis
#Menulisasik