02 Juni, 2017

Menikah dan tangisnya



Menikah itu bukan perkara mudah, kamu akan berhadapan dengan keluarga besar suami yang bisa jadi 100% beda jauh dengan gaya hidup keluarga kita yang sudah kita hapal sejak lahir, kamu akan menghadapi teror dari orang tua dan saudara kita sendiri karena tidak terima dengan gaya hidup mereka yang dikhawatirkan akan tertular ke anaknya atau saudaranya, dan juga tuntutan dari keluarga suami yang membutuhkan suamimu, jika bukan karena iman maka perpisahanlah yang terjadi, Naudzubillahimindzalik.

Maka ketika ku melihatnya menangis, bukan karena tak cinta, bukan karena tak terima keluarga suaminya, tapi karena , bagaimana cara dia menghadapi masalah-masalah yang muncul tanpa ada yang tersakiti, kau terlihat sangat lemah, tangismu adalah tangis kita, benci hanya bisa menyaksikan tangismu, tangis yang kau sembunyikan sekian tahun.

Setres, ketika orang tua maunya seperti ini, wajar karena dia anaknya,dan mertua maunya begini, wajar karena dia yang memiliki anak laki-laki, suami, dan kita tidak ingin salah satu dari mereka tersakiti. 

Di sini, peran saudara sangat di butuhkan, sebagai penguat, sebagai pendukung,dan sebagai penengah bukan sebagai provokator atau pun perusuh.

Jika orang tua bisa ikhlas sedikit, kalau anak perempuan setelah menikah bukanlah miliknya lagi, maka tak ada setres yang dialami si anak perempuan, tidak ada luka yang tertoreh di hati ibu.

Ikhlaskanlah anak perempuanmu bahagia ibu,,, karena berpisah denganmu  saja sudah duka ibu, berusaha ikhlas ikut pada lelaki yang kau terima lamarannya, apalagi jika harus berdebat denganmu? bahkan Naudzubillahimindzalik sampai keluar kata- kata , kamu durhaka

Anak kadang bimbang ini karena di sayang atau tidak?

Sementara sang ibu koar-koar mengatakan bahwa dia lakukan ini semua karena sayang.. sementara anak tak merasakan ada sayang karena luka.

Duhay… bi idznillah… suatu hari aku juga akan menjadi ibu dan mertua,
Bisakah aku melepas begitu saja anak perempuanku, karena lelaki yang menjadi suaminya adalah hak ibunya ? dan anakku adalah milik suaminya ?

Lalu, dasar apa yang menyatakan istri milik suami dan suami milik ibunya?
 
Dari Aisyah r.a, ia berkata, saya berkata kepada Rasulullah SAW,"Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling besar haknya kepada seorang perempuan/istri? Beliau menjawab,"Suaminya." Aku berkata,"Dan siapakah manusia yang paling berhak terhadap seorang laki-laki/suami? Beliau menjawab,"Ibunya."
(Hadits Riwayat Imam An-Nasa'i, Al-Hakim, dan Imam Al-Bazzar) 

 semoga Allah membimbingku selalu berada di jalan yang lurus, Allahumma Aaamiin…

Eeeh… by the way.. saya bukan nakut- nakutin loh yaaa… khawatir pula guardian kami tersayang jadi takut nikah… ehemmm…
Tapi… karena menikah, yang dibutuhkan siap mental,kuat iman,
Setelah oke… menikahlah… jalanilah takdir bersama, wah indah kok… indah banget… jika semua karna Allah swt.

*apalagi bakal dapat hadiah sprei… apalagi yang malam ini makan martabak mertua... hehehe.. yang faham hanya penghuni Squad 6 yang the best.

#day 17
#30DWC
#JILID 6
#SQUAD 6

2 komentar:

kubuka jendela kutemukan warna mengatakan...

Hmmm... Saya menangkap ide tulisannya. Tapi bingung dengan kata ganti orang ketiga di setiap paragraf. Ditujukan untuk siapa. Tidak jelas subyek dan obyeknya. Saran, agar ditata lagi bahasanya, supaya mudah dipahami dan mengalir

MujaHidah M Salbu mengatakan...

samma mba.. aku aja sedikit bingung, menulis seketika, dan langsung publish, begitulah gayaku di 30dwc,sangking dah kejar2an sama jam, nanti setelah berhari2 baru main edit hahahha...
jazaakillahu khairan jazaa,,, mba'ku untuk masukannya, walau sebenarnya saya tak pernah berharap dan tak pernah ingin tulisan2ku terbaca olehmu hehehehehe
malu seindonesia raya...